GITJ KEDUNG PENJALIN
gitj

 

 

JANGAN TERLALU BERBEBAN BERAT

 

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.  Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia,

yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”

(Ibrani 12:1-2)

 

Kehidupan kekristenan menuntut sebuah pertumbuhan.  Hal itu adalah sesuatu yang alamiah.  Pertumbuhan itu berarti bergerak ke arah kemajuan.  Bukan sebaliknya ke arah kemunduran.

Kunci yang firman Tuhan berikan supaya hidup kita senantiasa bertumbuh, sesuai dengan bacaan kita di atas ada dua hal, yakni: menanggalkan beban dan dosa, serta tekun melakukan “lomba” dengan fokus pada Yesus.

Yang pertama, menanggalkan beban dan dosa.

Yang sangat merintangi pertumbuhan rohani adalah beban-beban persoalan dan tentu saja dosa.  Mereka bagaikan benalu pada sebuah pohon, yang mengisap sari-sari makanan, yang seharusnya mengalir ke arah daun dan buah.  Benalu menjadi sangat jahat karena pohon, tempat ia menempel akan menjadi kering, tidak ada kesegaran.

Orang yang ingin tanamannya kelihatan menggairahkan, haruslah membersihkan benalu itu sampai ke akar-akarnya.  Dahan-dahan yang tercemar oleh benalu, mesti direlakan dipotong, supaya pertumbuhan dahan yang lain dapat menggembirakan.

Beban-beban apa yang merintangi kita?  Potong dan buanglah beban itu supaya kita dapat mengalami pertumbuhan rohani yang baik.  Seringkali orang tidak bergiat dalam pelayanan, melakukan penolakan ketika diberi tanggung jawab, karena sebenarnya mereka masih terikat dengan beban-beban persoalan.  Bukankah Tuhan Yesus berkata supaya kita menyerahkan beban kita kepada-Nya, dan Ia akan memberikan kelegaan? (Mat. 11:28)

Dosa apa yang mengganggu pikiran kita?  Dosa itu harus segera diakui di hadapan Tuhan.  Kalau tidak, maka kita akan semakin dijauhkan dari hadirat Tuhan.  Padahal dahan tidak bisa bertumbuh dan berbuah tanpa menempel dengan pokok sebuah pohon.  Semakin kita berusaha hidup dalam kekudusan, semakin kita selalu hidup bersekutu dengan Tuhan.  Persekutuan itulah yang akan membuahkan hidup kekristenan yang mengalami pertumbuhan dan kemajuan.

Yang kedua, melakukan lomba dengan fokus kepada Yesus.

Hidup dalam iman diumpakan sebuah perlombaan.  Dalam terjemahan lama disebut perlombaan lari.  Oleh karenanya, masing-masing “peserta lomba” mesti mempersiapkan diri dengan baik.  Sesudah hal-hal yang membebani ditanggalkan, maka aktivitas berikutnya adalah mengayunkan kaki dengan mengarah kepada garis finish, yakni Tuhan Yesus sendiri.

Pernahkah kita melihat seorang pelari yang selalu menolehkan matanya ke arah kiri kanan.  Tentu tidak akan pernah ada bukan?  Yang ada yakni pelari yang dengan sekuat tenaga dan dengan sepenuh hati berkonsentrasi pada apa yang ada di depan mata.  Mungkin dia mendengar komentar-komentar para penonton yang mungkin memuji atau mencela.  Tetapi jika ia mau sukses, segala omongan itu tidak akan diperdulikannya.  Mukanya mengarah senantiasa ke depan.

Jika kita mau maju dalam iman, mestinya begitu.  Kita jangan terlalu hiraukan apa kata orang tentang kita, tetapi yang paling perlu adalah apa yang Tuhan katakan tentang kita.  Misalnya, jangan menjadi lemah semangat jika ada orang berkata,”wah sekarang rajin ke gereja, sok suci, dsb.”  Bukankah kita harus lebih fokus kepada Tuhan yang memanggil hidup kita?

 

Renungan Harian