GITJ KEDUNG PENJALIN
gitj

BUAH NYATA PERTOBATAN

 

“Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan:”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” (Lukas 19:8)

 

Bacaan: Lukas 19:1-9

 

Menerima baptisan, merupakan tanda seseorang bertobat di hadapan Tuhan.  Namun cukupkah kehidupan Kristen hanya ditunjukkan dengan mengikuti baptisan saja?  Setelah itu hidup dilakukan dengan seenaknya?

Zakheus, seorang pemungut cukai yang dulunya sangat rakus akan harta, ketika dia bertobat di hadapan Tuhan, maka dia berkomitmen hidup yang sangat berbalik arah dengan kehidupannya semula.  Kalau dulu ia dikenal pemeras, maka setelah bertobat menjadi penderma.  Dulu yang dikenal sangat kikir, sekarang menjadi murah hati.  Dulu yang tentu saja tidak mengutamakan peribadatan, usai pertobatan sangat memprioritaskan jam-jam kebaktian dalam kehidupannya.

Cerita mengenai Zakheus adalah cerita yang mungkin terlihat ekstrem.  Tetapi di alkitab, tidak hanya Zakheus yang mengalami kehidupan berbalik arah setelah pertobatannya.  Ambil satu contoh saja, misalnya Saulus.  Dari kehidupan menjadi penganiaya jemaat Tuhan, kemudian menjadi pekabar Injil untuk membawa orang menjadi jemaat Tuhan.  Dari semula sombong jasmani dan rohani, menjadi sangat rendah hati.

Jika seseorang mengaku telah bertobat di hadapan Tuhan, hendaknya itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sekedar menyenangkan manusia sekitarnya atau sekedar popularitas.  Oleh karenanya, buah-buah rohaninya harus nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin yang ideal kalau kita bisa mencontoh kehidupan Zakheus.  Sehingga ada pembalikan gaya hidup secara total.  Misalnya seorang pencuri, setelah bertobat tidak akan mencuri lagi, tetapi hidupnya menjadi penderma bagi sesama.  Seorang penjinah, akan menjaga kekudusan hidupnya, seorang ayah rumah tangga yang suka menempeleng istri dan anaknya, akan menjadi seorang ayah yang lemah lembut dsb. (SB)

Renungan Harian