GITJ KEDUNG PENJALIN
gitj

A. Awal Berdirinya

Berdasarkan buku Babad Zending di Pulau Jawa karya J.D. Wolterbeek,[1]  pelayanan di Kedung Penjalin bermula dari pembaptisan Pdt. Pieter Jansz terhadap seorang Jawa yang bernama Pasrah.  Pasrah (selanjutnya dikenal sebagai Pasrah Karso) inilah yang kemudian pindah ke Kedung Penjalin, sebuah lokasi yang tidak jauh dari desa Bondo, sebuah desa yang dibangun oleh Kyai Tunggul Wulung.  Bersama dengan beberapa keluarga Kristen, Pasrah kemudian membuka hutan di Kedung Penjalin dan menempatinya.  Meski pada saat itu orang-orang Kristen kurang bersahabat dengan Pdt. Pieter Jansz, tetapi orang-orang Kristen di Kedung Penjalin dapat bersahabat dengan penginjil dari missi Zending Doopsgezind (DZV) ini.

 Sehingga untuk selanjutnya, pelayanan di Kedung Penjalin berada di bawah naungan missi zending DZV tersebut.  Akibat berada di bawah naungan zending DZV inilah maka pelayanan di Kedung Penjalin mendapatkan sarana pelayanan melalui kesehatan.  Ketika dr. H.Bervoets dari wilayah Mojowarno mendirikan rumah sakit zending di Kelet, yang terletak di antara Margorejo dan Kedung Penjalin.  Di Margorejo dan Kedung Penjalin kemudian didirikan rumah sakit pembantu yang efektif dalam pengembangan pelayanan pada waktu itu.

Menurut catatan yang dibuat S.H. Soekotjo[2], tentang pribadi Pasrah Karso yang disebut di depan sebagai orang yang mulai membuka daerah Kedung Penjalin, sebenarnya berasal dari daerah Sintru dekat Pati, kemudian pindah ke Pulojati (sebuah desa yang terletak antara Kudus dan Jepara).  Di desa Pulojati inilah Pasrah Karso mengenal berita Injil yang dibawa oleh seorang penjual gentong air dari Kayuapu.  Pasrah Karso akhirnya berjumpa dan belajar pada Pdt. Pieter Jansz dan menerima baptis tahun 1856 M.  Selanjutnya Pasrah Karso menjadi Guru Injil yang membantu Pieter Jansz menyebarkan Injil di sekitar Jepara bersama dengan Guru Injil yang lain yaitu Tresna Wirodiwongso dan Petrus.  Dalam pelayanan, Pasrah Karso juga melibatkan para menantunya: Yahuda Limbun dan Yokanan Semadin.  Di bawah asuhan Pieter Jansz mereka melayani dengan penuh ketekunan.  Pada zaman itu, jemaat Kedung Penjalin mendapat sebutan sebagai Kristen “Landa”, yakni orang-orang Kristen didikan Belanda.  Hal ini untuk membedakan dengan jemaat Bondo yang mendapat sebutan Kristen “Jawa”.

Selain di depan sudah disebutkan bahwa Kedung Penjalin mendapat fasilitas pendirian rumah sakit pembantu, sebelumnya pada tahun 1877 mendapat sekolah Volkschool (sekolah Desa/ Angka loro) dari DZV asuhan Zendeling Nicolas Dirk Schuurman (konon orang Kedung Penjalin biasa menyebutnya Tuwan Kirman).  Selanjutnya menurut S.H. Soekotjo, berdasarkan statistik zending tahun 1890, jemaat Kedung Penjalin terdiri dari 66 dewasa ditambah 83 anak-anak murid sekolah.  J.D. Wolterbeek, dalam buku Babad Zending di Pulau Jawa yang semula dalam bahasa Jawa dan terbit tahun 1939, mencatat bahwa jemaat Kedung Penjalin berjumlah 699, sedangkan Pati 171, Kudus 143, Banyutowo-Tayu 211, Margorejo 1401, Kelet 267, Dono Rojo 182, Bumiarjo (Bandungarjo) 140, Margokerto 447, Bondo 212, Kayuapu 224, dan kelompok jemaat kecil 187.[3]

Lebih lanjut menurut catatan Soekotjo berkenaan dengan pelayanan jemaat di Kedung Penjalin adalah sebagai berikut:

Tahun 1892 Kedung Penjalin mendapat poliklinik, 2 tahun lebih dahulu dibanding Margorejo yang saat itu menjadi pusat zending.
Pada tahun 1893 ditempatkan di Kedung Penjalin seorang zendeling atau pendeta tersendiri yaitu Johann Hubert yang saat itu melayani Kedung Penjalin, Bondo, Srobyong dan Pulojati yang didampingi oleh Guru Injil Yokanan Semadin, Tresna Totruno dan Partakariyo, dan tentu saja Pasrah Karso.  Hanya sayang, Pasrah Karso hanya sebentar menemani pelayanan zendeling Johann Hubert ini karena tidak lama kemudian Pasrah Karso meninggal dunia.  Menurut Wolterbeek, Hubert memiliki juga Guru Injil yang bertahun-tahun membantu pelayanannya, yakni Guru Injil Martin.[4]
Pada tahun 1913 Kedung Penjalin mendapat sebuah Vervolgschool, nantinya menjadi Standardschool.
Pada tahun 1909 poliklinik Kedung Penjalin mendapat tenaga medis yang diawali dengan penempatan Zuster Suzanna Rickert.
Sejak tahun 1917, Kedung Penjalin dibentuk Kerkraad (Majelis Gereja) sebagai latihan jemaat menjadi jemaat dewasa.  Tahun 1928 diusulkan menjadi dewasa tetapi ditolak karena belum memenuhi syarat.  Tahun 1930 ditunjuklah  Sukar Yogapranoto dan Radiyo Nitiharjo sebagai Guru Injil di Kedung Penjalin dan Margokerto.
Ketika zendeling J. Hubert mendekati pensiun, zendeling Otto Stauffer mulai ditempatkan di Kedung Penjalin.  Baik Hubert maupun Stauffer, rupanya tidak hanya melayani khusus Kedung Penjalin, tetapi juga di wilayah Bondo dan Margokerto juga.

Peristiwa penting yang dicatat oleh S.H. Soekotjo berkenaan dengan jemaat Kedung Penjalin dam situasi pendudukan Jepang adalah sebagai berikut: pada tanggal 29-30 Mei 1940, di Kelet berkumpulah 10 jemaat yang sudah kuat yakni: Pati, Kudus, Kayuapu, Jepara, Kedung Penjalin, Bondo, Margokerto, Kelet, Bandungharjo, Banyutowo, dan Tayu.  Mereka membentuk “Sinode GITJ” yang bernama : Patunggilanipun Para Pasamuwan Kristen Tata Injil ing wengkon Kabupaten Kudus, Pati, lan Jepara.  Akibat dari terbentuknya sinode tersebut, maka secara otomatis gereja-gereja yang mendirikannya menjadi dewasa. 

Dengan demikian, menurut S.H. Soekotjo, hari ulang tahun jemaat Kedung Penjalin, berbarengan dengan HUT jemaat Bondo juga, yakni tgl. 30 Mei 1940.  Rapat sinode Agustus 1940 mendetapkan akan diangkat pendeta di antaranya: Guru Injil Sukar Yogapranoto dari kedung Penjalin dan Radiyo Nitihardjo dari Margokerto.  Penahbisan kemudian dilakukan di Gereja Margorejo bersama 3 orang pendeta baru lainnya pada tanggal 24 November 1940.  Lebih lanjut dicatat, dalam sidang sinode 8 April 1943, Pdt. Sukar Yogapranoto dari Kedung Penjalin dan Pdt. Radiyo Nitihardjo terpilih sebagai anggota pengurus sinode.

 

B. Perkembangan Pelayanan Masa Sekarang ini

Dalam perkembangan pelayanan selanjutnya, Kedung Penjalin yang berlokasi di desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo Jepara Jawa Tengah ini memiliki beberapa pepanthan yang menjadi wilayah kerja pelayanan.  Pepanthan tersebut adalah: Pakis Suwawal, Srobyong, Balongarto, Kedung Mulyo, Ploso Ngipik, Kancilan, Ploso Barat, dan Pailus.  Kesemua pepanthan ini saat ini semuanya sudah didewasakan dengan masing-masing memiliki pelayannya sendiri-sendiri.  Sebagai modal pelayanan, Kedung Penjalin memberi hak pakai tanah sawah kepada masing-masing bekas pepanthan tersebut.  Pepanthan yang saat ini masih menjadi naungan jemaat Kedung Penjalin adalah pepanthan Bucu-Cepogo, dan Ngemplik.

Hamba Tuhan yang pernah melayani di jemaat Kedung Penjalin setelah Pdt. Sukar Yogapranoto emeritus adalah: Pdt. Mintardja dan Pdt. Prabawa HW, B.Th.  Guru Injil Wasiyanto memulai pelayanan tahun 1988 hingga saat sekarang ini.  Menjelang Pdt. Prabawa,B.Th. emeritus, tahun 2001 jemaat memanggil Drs. Suyito Basuki,M.Th. yang saat dipanggil telah bekerja secara penuh waktu sebagai staf pengajar di lingkungan Yayasan Iman Indonesia yang bertugas mengajar di Universitas Kristen Immanuel Yogyakarta dan di sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia di Yogyakarta, untuk menjadi tenaga vicaris yang kemudian penahbisan jabatan kependetaannya dilakukan tanggal 2 April 2003.  Setelah itu, memanggil dan menahbiskan juga Pdt. Zudi Riyono, S.Si.

 

 

 

 

SEJARAH DAN KONDISI GITJ KEDUNG PENJALIN